BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 03 September 2016

TERBIASA BERLAGU





28 Juli 2016

Terbiasa lagi ini disenandungkanbersama malam,
Bersanding denganmu menjelma jadi selimut tidur
Kadang sumbang, kebanyakan menghanyutkannya,
Selalu kau pinta-pinta irama baru.

Bila cerah, kau ingin lagu ceria, penuh puja-puji..
Bila mendung, lagu rindu yang kau tuntut,
Sampai aku hanya bergumam “hmmm’ pun harus berima-rima dan bernada-nada…

Seperti malam-malam lalu.
Aku menggumam menggetarkan benak, tapi hanya untukku saja kali ini..
Tak ada alamat hendak dituju,

Kau tlah temukan penyanyi lain.

BOCAH DENGAN SEPEDA




BOCAH DENGAN SEPEDA
1 September 2016

Aku anak manja yang belajar bersepeda,
Jatuh, menangis, lalu berhenti,,,
sejenak kemudian, ku kayuh lagi,
jatuh lagi, ku berhenti,
ku campakkan, ku tenggelamkan di comberan,
sesaat kemudian ku cuci bersih, ku lap mengkilat, ku wewangikan,
kemudian ku kayuh lagi,
saat lelah mendaki, ku tinggalkan di awal pendakian,

telah sampainya aku di puncak, kemudian kehilangan,
kesendirian yang tak pernah dirasakan sebelumnya,
maka, inilah aku yang ingin menyusul sepeda itu,,,
berlari lagi menggelinding ke bawah,
ternyata ia tak hanya sepeda,
ia adalah mimpi yang membuatku terus mengayuh,
meski diterpa panas maupun hujan lebat sekalipun,
lambat benar aku menyadarinya,
Hah, bocah tengik seperti aku,
memang tak pantas jadi tuan,

Tapi, aku tlah tetapkan untuk memilih sepeda ini jadi teman perjalanan,
lambat laun, kita sampai juga nantinya,
Kau jangan merajuk, wahai sepeda,
aku butuh kau, aku sayang kau,

hah,,, aku bocah,
senang ku bertualang,
tapi kecut nyaliku saat oleng,
Pastilah susah nanti aku menjelaskan penrangai ku pada pemberi sepeda ini,
Sepeda, sepeda,
Kau sepeda mahal sekali,

karena kau pemberian wanita pembawa keranjang buah manis beracun cinta,,,

TENTANG PETANI INI




TENTANG PETANI INI
1 september 2016

Hai wanita,
Aku seorang petani,
Hanya saja disini masih sangat gelap,
Belum bisa aku berladang,
Tak ada penerangan untuk menuntunmu,
Aku masih mengais-ngais jalanan, membersihkan semak belukar,
Agar bisa dilalui berdua,
Agar tak terbungkuk-bungkuk atau gores kulitmu oleh duri,
Saat fajar datang nanti,
Kita berangkat menuju ladang
Aku, sungguh ingin meniti pematang ini berdua,
Ya, denganmu…
Kau jadi penunggu gubukku di kala terik, dengan hidangan ala kadar,
Namun selalu berbumbu syukur bahagia karena bersama..

Aku petani, menanam padi,
Kau, kalau kau mau, terpaksa juga jadi ibu petani,
Kita kan menyemai bibit bahagia bersama untuk kemudian memanennya dan membaginya ke dunia
Wangi bahagia kita akan tercium sampai nirwana

Kau suka kopi bukan?
Mari menanam kopi,
Telah kusiapkan sebidang tanah untuk ditanami,
Kopi berbuah 2 tahun lagi,
Selama itu, kita siangi rumputnya, kita tebasi tunasnya, kita pupuk dan sirami,
Sampai akhirnya berbuah ranum kemerahan,
Biar aku yang petik dan jemur bijinya,
Kau duduk saja di dipan gubuk kita,
Tunggu aku sajikan kopi terbaik,
Aromanya melekatkan sukma, meninggalkan pikiran busuk dunia ke perapian,

Ohiya, kau suka bunga,
Ada tanah di bukit sana yang dijual,
Kalau nasib baik berpihak, ku tawarlah tanah itu,
Kita tanam bunga,
Ku akan petikkan setangkai pagi dan setangkai sore setiap harinya,
Pelit? Hahaha.. tertawalah sayang,
Aku kumpulkan 998 tangkai sisa setiap harinya, untuk kuberikan di hari jadimu, atau di hari jadi kita, atau di hari jadi rumah kita, di semua hari spesial kita,
Atau?
Kau selalu ingin seribu bunga setiap hari? Karena setiap hari selalu berharga dan “special”?
Oh, jangan sayang, ada kebun kopi yang harus ku rumput tiap pagi, dan ada padi yang harus ku tampi tiap sorenya,
Cukup…

Wahai wanita,,, itu baru janji ku saja… sederhana dan tidak indah,
Namun, akan selalu ku perbaiki seiring fajar yang akan semakin menyingsing..
Kau menegapkan bahuku, kau pula nanti yang dapat membungkukkan punggungku,

Aku baru bisa membeli benih,
Ladangnya masih jauh terlihat,
Baru aku punya cangkul, gubuknya belum terbangun,
Daun rumbianya masih disulam,
Bambunya baru akan ditebang,
Maukah kau jadi ibu petaninya?

Tapi, aku petani yang payah
Marah lalu menghilang di tengah badai menjadi tabiat burukku,
takutku padi yang mulai menguning itu kubiarkan lalu layu
Takut ku kau malah ikut hilang atau malah mati karena badai itu,
 atau karena kelaparan tak jadi panen
Atau cangkulku malah menghunus hatimu,
Tak hanya sekali, mungkin berkali-kali,
Tapi, aku, sungguh akan mengikatkan kakiku ke pohon di pematang sawah,
Pohon yang kita ikrarkan janji disana,
Agar aku tak lari kemana-mana saat badai datang,
Bahwa aku akan hadapi walaupun harus menggigil,
Sekalinya aku pingsan nanti, kau tampar aku keras-keras, tapi tetaplah disampingku, karena setelah itu aku akan kehausan, maka berilah aku kasih sayang penuh manja…


Jadi, wanita yang membawa keranjang buah manis beracun cinta,

Apa jawabanmu?

DUA IKAT BUNGA




DUA IKAT BUNGA
31 Agustus 2016

Apa artinya bunga bila yang kuhidangkan adalah hati dan darah,
Tapi kau inginkan bunga,
“Bagai bayi yang kelaparan, kau berikan ia minum, takkan berhenti menangis,” katamu

Andai yang kau lihat lebih dari bunga,
Bunga dimana-mana sama,
Siapapun pemberi, pengantarnya,

Kau bilang bunga tanda serius,
Kata ayahku, cincin lah tanda serius,
Yang sedang ku tempa,
Ki kikir, ku lelehkan, ku ukirkan nama kita,
Ku tempa di gudang belakang, yang belum bisa kau intip

Tapi, kau inginkan bunga,
Ya sudah,
Bukankah banyak sudah pengantar bunga segerobak yang menawarkanmu?
Pilihlah satu, lekas pergilah!

Nanti, ku bawakan bunga di hari baikmu,
Dua ikat,

Satu untukmu, satu untuknya…

KAPAL YANG TERGANTUNG




KAPAL YANG TERGANTUNG
5 agustus 2016

Pernahkah kau dibangunkan oleh berita?
Yang membuka mata, mencambuk hati, membentur-benturkan pikiran dan kenangan, lalu menggenang lagi di mata.
Ini lah aku risau yang tergantung,
Untuk dilabuhkan kembali, atau ditutup dermaga agar berlayar lagi,
Temui ombak dan berkelahi, mencoba angkuhnya kapal buatan sendiri
Atau disuruhnya aku mendarat di tepiann lain.

Ini, kapal hebat, bung.
Tenggelam setengah hidupnya,
Berlayar lagi dengan tambal dan jahitan layar sana-sini.
Dua tiga musim angi lagi di lautan, karang dan garam akan memolesnya jadi cantik.
Sekaratpun ia, tetap harum kesombongan di tebarkannya.
Kau tak kan lihat lagi kapal menjerit,
Karena kau jauh dari pelabuhan, atau kapal ini semakin perkasa.

Bagaimana?

KENTUT



KENTUT
4 Agustus 2016

Tak setetes keringat untuk wanita,
Pencaci dan pencacat
Menuntut hal yang telah takdirnya tak kan terpenuhi,
Mengumbar amarah seakan disiksa sampai uzur

Apa yang tertuai apa yang terhidang,
Tebu dipepah manis,
Lada ditabur pedas.
Kau inginkan kebijaksanaa, tanpa kata-kata indah,
Hanya terjadi di ruang angin,
Melapor sebentar lalu sirna…

Wanita,
Suara pendosa, mata pemenjara, penggerus pikiran,
Tak habisnya dilumat kunyah,
Wanita

Hancur aku,
Dikelabui bungkusnya yang merah mekar,
Namun beraroma belerang,
Tak ubahnya angin keluar dari belakang,

Busuk dan dibuang..

MAAF DARI WANITA


 MAAF DARI WANITA
3 agustus 2016

Jika maaf makanan wanita,
Ku suapkan hangat sebelanga,
Kucukupkan sampai penuh,
Tak peduli nona muntahkan dengan hina.
Ku peras darah,
Mengkopres dendam yang memanas, sampai menguap mencoreng muka
Ku genggam kaca sampai debu,
Serbuknya mengalir sampai jantung, ku keluarkan lewat nyawa,,,
Agar kembali gelas itu.

Gelas pecah tak kan kembali utuh,
Kecuali nyawa terbayar cinta,
Biar bisa kita bercermin,
Memandang masa yang mengecil, dan minum bahagia

Entahkah nyawa dalam gelas,
Atau dalam genggaman,
Keduanya kau yang pegang.
Darahku tersaji untuk maaf,
Nyawaku terhidang untuk cinta,
Mu…