BOCAH DENGAN SEPEDA

BOCAH DENGAN SEPEDA
1 September 2016
Aku anak manja yang belajar bersepeda,
Jatuh, menangis, lalu berhenti,,,
sejenak kemudian, ku kayuh lagi,
jatuh lagi, ku berhenti,
ku campakkan, ku tenggelamkan di comberan,
sesaat kemudian ku cuci bersih, ku lap mengkilat, ku
wewangikan,
kemudian ku kayuh lagi,
saat lelah mendaki, ku tinggalkan di awal pendakian,
telah sampainya aku di puncak, kemudian kehilangan,
kesendirian yang tak pernah dirasakan sebelumnya,
maka, inilah aku yang ingin menyusul sepeda itu,,,
berlari lagi menggelinding ke bawah,
ternyata ia tak hanya sepeda,
ia adalah mimpi yang membuatku terus mengayuh,
meski diterpa panas maupun hujan lebat sekalipun,
lambat benar aku menyadarinya,
Hah, bocah tengik seperti aku,
memang tak pantas jadi tuan,
Tapi, aku tlah tetapkan untuk memilih sepeda ini jadi teman
perjalanan,
lambat laun, kita sampai juga nantinya,
Kau jangan merajuk, wahai sepeda,
aku butuh kau, aku sayang kau,
hah,,, aku bocah,
senang ku bertualang,
tapi kecut nyaliku saat oleng,
Pastilah susah nanti aku menjelaskan penrangai ku pada
pemberi sepeda ini,
Sepeda, sepeda,
Kau sepeda mahal sekali,
karena kau pemberian wanita pembawa keranjang buah manis
beracun cinta,,,
0 komentar:
Posting Komentar