TENTANG PETANI INI
1 september 2016
Hai wanita,
Aku seorang petani,
Hanya saja disini masih sangat gelap,
Belum bisa aku berladang,
Tak ada penerangan untuk menuntunmu,
Aku masih mengais-ngais jalanan, membersihkan semak belukar,
Agar bisa dilalui berdua,
Agar tak terbungkuk-bungkuk atau gores kulitmu oleh duri,
Saat fajar datang nanti,
Kita berangkat menuju ladang
Aku, sungguh ingin meniti pematang ini berdua,
Ya, denganmu…
Kau jadi penunggu gubukku di kala terik, dengan hidangan ala
kadar,
Namun selalu berbumbu syukur bahagia karena bersama..
Aku petani, menanam padi,
Kau, kalau kau mau, terpaksa juga jadi ibu petani,
Kita kan menyemai bibit bahagia bersama untuk kemudian
memanennya dan membaginya ke dunia
Wangi bahagia kita akan tercium sampai nirwana
Kau suka kopi bukan?
Mari menanam kopi,
Telah kusiapkan sebidang tanah untuk ditanami,
Kopi berbuah 2 tahun lagi,
Selama itu, kita siangi rumputnya, kita tebasi tunasnya,
kita pupuk dan sirami,
Sampai akhirnya berbuah ranum kemerahan,
Biar aku yang petik dan jemur bijinya,
Kau duduk saja di dipan gubuk kita,
Tunggu aku sajikan kopi terbaik,
Aromanya melekatkan sukma, meninggalkan pikiran busuk dunia
ke perapian,
Ohiya, kau suka bunga,
Ada tanah di bukit sana yang dijual,
Kalau nasib baik berpihak, ku tawarlah tanah itu,
Kita tanam bunga,
Ku akan petikkan setangkai pagi dan setangkai sore setiap
harinya,
Pelit? Hahaha.. tertawalah sayang,
Aku kumpulkan 998 tangkai sisa setiap harinya, untuk
kuberikan di hari jadimu, atau di hari jadi kita, atau di hari jadi rumah kita,
di semua hari spesial kita,
Atau?
Kau selalu ingin seribu bunga setiap hari? Karena setiap
hari selalu berharga dan “special”?
Oh, jangan sayang, ada kebun kopi yang harus ku rumput tiap
pagi, dan ada padi yang harus ku tampi tiap sorenya,
Cukup…
Wahai wanita,,, itu baru janji ku saja… sederhana dan tidak
indah,
Namun, akan selalu ku perbaiki seiring fajar yang akan
semakin menyingsing..
Kau menegapkan bahuku, kau pula nanti yang dapat
membungkukkan punggungku,
Aku baru bisa membeli benih,
Ladangnya masih jauh terlihat,
Baru aku punya cangkul, gubuknya belum terbangun,
Daun rumbianya masih disulam,
Bambunya baru akan ditebang,
Maukah kau jadi ibu petaninya?
Tapi, aku petani yang payah
Marah lalu menghilang di tengah badai menjadi tabiat
burukku,
takutku padi yang mulai menguning itu kubiarkan lalu layu
Takut ku kau malah ikut hilang atau malah mati karena badai
itu,
atau karena kelaparan
tak jadi panen
Atau cangkulku malah menghunus hatimu,
Tak hanya sekali, mungkin berkali-kali,
Tapi, aku, sungguh akan mengikatkan kakiku ke pohon di
pematang sawah,
Pohon yang kita ikrarkan janji disana,
Agar aku tak lari kemana-mana saat badai datang,
Bahwa aku akan hadapi walaupun harus menggigil,
Sekalinya aku pingsan nanti, kau tampar aku keras-keras,
tapi tetaplah disampingku, karena setelah itu aku akan kehausan, maka berilah
aku kasih sayang penuh manja…
Jadi, wanita yang
membawa keranjang buah manis beracun cinta,
Apa jawabanmu?